Translate

Minggu, 11 Maret 2012

TUGAS PROPOSAL METODOLOGI PENELITIAN BISNIS


PENGARUH RASIO CAMEL TERHADAP PRAKTIK MANAJEMEN LABA DI BANK SYARIAH


 TUGAS PROPOSAL
Mata kuliah Metodologi Penelitian Bisnis



Disusun Oleh :
DEDI ABDUL MAKKI (2090810003)



JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI………………………………………………………i
Abstraksi………………………………………………………….1
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang………………………………..…..……2
1.2  Rumusan Masalah…………………..……………,,……3
1.3  Tujuan dan Manfaat Penelitian……………………….…..3
BAB II TINJAUAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Hasil Penelitian Terdahulu………………………………4
2.2 Tinjauan Teori…………………………………………..4
2.2.1 Pengertian Bank Syariah………………………………4
2.2.2        Jenis-Jenis Bank Umum Syariah…………………….5
2.2.3        Jenis-Jenis Unit Usaha Syariah…………………..…5
2.2.4        Hipotesis …………………………………………...7
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis, Lokasi dan Waktu Penelitian………………….……8
3.1.1 jenis penelitian………………………………………..8
3.1.2  Lokasi Penelitian………………………………………8
3.1.3 Waktu Penelitian………………………………….……8
3.2 populasi dan Sampel……………………….……………9
3.2.1 Populasi………………………………………………9
3.2.2 Sampel………………………………………..………9
3.3 Definisi Operasional Variabel…………………………….9
3.4 Sumber dan Metode Pengumpulan Data………………..10
3.4.1 Sumber Data…………………………………………10


3.4.2 Metode Pengumpulan Data…………………………...10
3.5  Metode Analisis Data…………….……………………10
DAFTAR PUSTAKA……………………………………..11

Abstract

The purpose of this study is to investigate earnings management in syaria banks and the effect of CAMEL ratios on earnings management. Our samples consist of 21 syaria banks, cunsist of Syaria Bank (Bank Umum Syariah / BUS) and 18 Syaria Bussines Unit (Unit Usaha Syariah / UUS) at years 2004-2006.
Our results show that on average there is no significant earnings management practices (measured using discretionary acccruals) in syaria bank, and CAMEL ratios do not have significant effect on earnings management, except NPM which has positive and significant effect. This indicate that altough in average there is no earnings management in syaria banks, bank’s profitability could motivate management to engage in earnings management activity. We also find evidence that earnings management in BUS is significantly higher that in UUS.

Keywords : syaria banks, discretionary accruals, earnings management, CAMEL ratios.

Abstraksi

Tujuan penelitian ini adalah untuk manajemen laba pada bank syariah Investigasi dan pengaruh rasio CAMEL pada penghasilan manajemen. sampel kami terdiri dari 21 bank syariah, terdiri dari bank syariah (Bank Umum Syariah / BUS) dan 18 unit syariah busines (unit Usaha Syariah / UUS) pada tahun 2004-2006.
            Hasil kami menunjukkan bahwa rata-rata tidak ada praktek manajement signifikan laba (diukur dengan menggunakan akrual diskresioner) di bank syariah, dan rasio CAMEL tidak memiliki efek signifikan pada manajemen laba, kecuali NPM yang berpengaruh positif dan signifikan. ini menunjukkan bahwa meskipun rata-rata tidak ada manajemen laba di bank syariah, profitabilitas bank bisa memotivasi manajemen untuk terlibat dalam aktivitas Manajemen laba. kami juga menemukan bukti bahwa manajemen laba di BUS secara signifikan lebih tinggi daripada yang di UUS.

Kata kunci : Bank Syariah, akrual dikresioner, manajemen laba, rasio CAMEL.


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
            Informasi akuntansi yang tersaji dalam laporan keuangan merupakan salah satu informasi utama yang dapat diakses oleh investor, kreditur maupun pemegang saham untuk menilai kinerja manajer dalam mengelola dana perusahaan. Manajer dapat saja melakukan praktik manajemen laba (earnings management) untuk tujuan tertentu. Healy (1985), Kaplan (1985), Mc Nichols and Nillson (1988), dan Holthausen, Larcker, and Sloan (1995) menemukan bukti adanya tindakan manajer dalam melakukan manajemen laba terutama yang terkait dengan transaksi accrual.
            Praktik manajemen laba ini juga ditemukan di sektor perbankan seperti robb (1998) yang mendapatkan bukti adanya indikasi pengelolaan laba pada sektor perbankan. Penelitian Bertrand (2000) menemukan bukti secara empiris bank di Swiss yang sedikit kurang atau mendekati ketentuan batasan kecukupan modal cenderung untuk meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) mereka agar memenuhi persyaratan. Penelitian Betty and Petroni (2002) menemukan, dibandingkan private banks, public banks cenderung memiliki insentif lebih besar untuk melaporkan adanya kenaikan laba secara lebih konsisten. Penelitian Naciri (2002) mendapatkan bukti empiris adanya indikasi pengelolaan laba pada sektor perbankan.
            Beberapa penelitian pada bank konvensional di Indonesia, juga menunjukkan adanya indikasi praktik manajemen laba yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Setiawati dan Na’im (2001) yang menemukan bank-bank yang mengalami penurunan score tingkat kesehatannya cenderung melakukan earnings management. Susanto (2003) menemukan adanya indikasi praktik pengelolaan laba (earnings management) yang dilakukan oleh kelompok bank tidak sehat dan salah satu faktor dominan yang mendorong bank melakukan pengelolaan laba tersebut adalah motif meningkatkan kinerja bank. Endriani (2004) menemukan adanya indikasi earnings management pada bank dalam usaha memenuhi ketentuan kecukupan CAR (Capital Adequancy Ratio) yang ditetapkan oleh BI. Dan Arnawa(2006) juga menemukan adanya indikasi praktik manajemen laba dengan cara meningkatkan laba pada perbankan nasional pasca progam rekapitalisasi.
     

           

            Bank syariah salah satu bentuk operasional bank yang ada di Indonesia, dimana seperti bank konvensional, bank syariah juga terikat dengan peraturan baik yang ditetapkan oleh pemerintah maupun bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral di Indonesia, dan ditambah dengan aturan syariah. Penilaian kinerja bank syariah juga tidak jauh berbeda dengan bank konvensional.

1.2  Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1). Apakah terdapat indikasi praktik manajemen laba pada bank syariah?
2) Apakah kinerja bank syariah dengan rasio CAMEL mempuyai pengaruh terhadap praktik manajemen laba?

1.3  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
            1. Untuk melihat indikasi praktik manajemen laba yang dipengaruhi oleh kinerja pada bank syariah.

1.3.2 Manfaat Penelitian
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pengguna laporan keuangan untuk mengenai apakah terdapat indikasi manajemen laba di bank syariah, sehingga pengguna dapat lebih teliti dalam membaca laporan keuangan.




BAB II
TINJAUAN TEORI DAN HIPOTESIS

2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
            Beberapa penelitian pada bank konvensional di Indonesia, menunjukkan adanya indikasi praktik manajemen laba (eanings management) seperti penellitian yang dilakukan oleh Setiawati dan Na’im (2001), Susanto (2003) Endriani (2004) dan Arnawa (2006). Juga menemukan adanya indikasi praktik manajemen laba dengan cara meningkatkan laba pada perbankan nasional pasca program rekapitalisasi. Bank syariah yang dalam operasionalnya memiliki fungsi yang lebih luas dari bank konvensional seperti yang diuaraikan dalam pedoman akuntansi perbankan syariah Indonesia (PAPSI) 2003 yaitu sebagai manajer investasi, investor, penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, serta pengembangan fungsi sosial.
            Khan (1992), dalam Sofie (2005) mengidentifikasikan tujuan laporan keuangan akuntansi syariah antara lain adalah penentuan laba rugi yang tepat dan melaporkan dengan adaptable terhadap perubahan. Syahatah (2001) membagi tujuan akuntansi keungan (laporan keuangan) diantaranya membantu pengambilan keputusan yang lebih baik dan menentukan besarnya penghasilan yang wajib di zakati. Penelitian Endriani (2004) ditemukan bahwa bank melakukan earnings management dalam upaya memenuhi ketentuan rasio kecukupan modal minimum  (CAR) yang telah ditetapkan BI. Penelitian Robb (1998) juga membuktikan secara empiris bahwa bank cenderung melakukan praktik pengelolaan laba dengan cara meningkatkan laba, jika diperoleh laba yang rendah dari yang diinginkan.

2.2 Tinjauan Teori
2.2.1 Pengertian Bank Syariah
            Bank syariah adalah bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan dana dan maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, bank syariah tidak menggunakan sistem bunga dalam menentukan imbalan atas dana yang digunakan atau dititipkan oleh suatu pihak. Penentuan imbalan terhadap dana yang dipinjamkan maupun dana yang disimpan di bank didasarkan pada prinsip bagi hasil sesuai dengan hukum islam.



2.2.2 Jenis-Jenis Bank Umum Syariah

1. Bank Muamalat Indonesia (BMI)
2. Bank Syariah Mandiri (BSM)
3. Bank Syariah Indonesia

    2.2.3 Jenis-Jenis Unit Usaha Syariah

1.      Bank IFI Syariah
2.      Bank Danamon Syariah
3.      BRI Syariah
4.      Bank Niaga Syariah
5.      Bank Permata Syariah
6.      BNI Syariah
7.      BII Syariah
8.      Bank Riau Syariah
9.      Bank Jabar Syariah
10.  BPD Sumut Syariah
11.  BPD DKI Syariah
12.  BPD Lombok NTB
13.  BPD Aceh Syariah
14.  BPD Kalsel Syariah
15.  HSBC Syariah
16.  BTN Syariah

            Karena penilaian kinerja bank syariah umumnya tidah jauh berbeda dengan bank konvensional, maka diduga penilaian kinerja bank syariah dengan rasio CAMEL juga mempunyai pengaruh terhadap praktik manajemen laba. Rasio CAMEL dan proksinya yang digunakan dalam penelitian ini merujuk kepada penelitian Nasser (2003), yang sebelumnya juga sudah digunakan oleh Payamta dan Machfoedz (1999) serta Nasser dan Aryati (2002).



            Rasio C (Capital) pada rasio CAMEL dalam penelitian ini, diproduksi dengan nilai rasio CAR (Capital Adequacy Ratio). Earnings management dilakukan oleh bank semakin intensif dengan arah yang terbalik dengan tingkat CAR, dimana bank yang memiliki nilai CAR lebih rendah dari ketentuan minimum BI cenderung lebih intensif (tinggi) melakukan praktik earnings management  dan sebaliknya.
            Rasio A (Assets quality) pada rasio CAMEL, dimana kualitas asset ini dapat dilihat dari kemampuan aktiva produktif dalam menghasilkan laba. Sehingga rasio ini diproksi dengan nilai rasio RORA (Return On Risked Assets) yang diperoleh dari perbandingan laba sebelum pajak dengan aktiva produktif. Rasio RORA ini merupakan salah satu rasio yang menunjukan profitabilitas bank. Secara teori diketahui bahwa perusahaan yang memiliki profitabilitas yang rendah lebih termotivasi untuk melakukan earnings management. Penelitian Robb (1998) juga membuktikan secara empiris bahwa bank cenderung melakukan praktik pengelolaan laba dengan cara meningkatkan laba, jika diperoleh laba yang rendah dari yang diinginkan.
            Sedangkan rasio M (management) pada rasio CAMEL, diproksi dengan nilai rasio ROA (Return ON Assets). Penelitian Arnawa (2006) menggunakan rasio Return On Assets (ROA) sebagai salah satu proksi untuk menilai kinerja bank. Dimana nilai rasio ROA yang rendah juga diduga akan lebih memotivasi bank untuk melakukan manajemen laba dengan cara meningkatkan laba.
            Rasio E (earning) pada rasio CAMEL, diproksi dengan nilai rasio NPM (Net Profit Margin) yang diperoleh dari perbandingan laba operasi dengan pendapatan. Sama halnya dengan rasio RORA sebelumnya, rasio NPM juga menunjukan kemampuan bank menghasilkan laba dari aktifitas operasionalnya. Dimana laba operasi yang digunakan dalam rasio NPM ini jika ditambah dengan laba (rugi) bersih non operasional akan diperoleh nilai laba sebelum pajak yang digunakan dalam rasio RORA dan jika laba sebelum pajak ini dikurangi dengan perkiraan beban pajak penghasilan akan diperoleh nilai laba bersih yang digunakan dalam rasio ROA. Kerena itu rasio NPM ini diasumsikan juga akan bersifat sama dengan rasio RORA dan ROA sebelumnya.
            Rasio L (liquidity) pada rasio CAMEL, diproksi dengan nilai rasio LDR (Loan to Deposit Ratio). Semakin rendah nilai LDR yang juga menunjukkan rendahnya penghasilan bank akan memotivasi bank untuk melakukan manejemen laba dengan cara meningkatkan laba.



2.2      Hipotesis

            Berdasarkan penelitian terdahulu dan tinjauan teori, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1 : Terdapat indikasi praktik manajemen laba bank syariah
H2a : Rasio CAR berpengaruh negativ terhadap praktik manajemen laba.
H2b : Rasio RORA berpengaruh negatif terhadap praktik manajemen laba.
H2c : Rasio ROA berpengaruh negatif terhadap praktik manajemen laba
H2d : rasio NPM berpengaruh negatif terhadap praktik manajemen laba.
H2e : Rasio LDR berpengaruh negatif terhadap prakatik manajemen laba.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis, Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1 jenis penelitian
            Untuk menguji indikasi praktik manajemen laba pada hipotesis 1 (H1) di atas digunakan uji beda, yaitu apakah rata-rata nilai AD pada bank syariah ≠ 0.
            Hipotesi 2 diuji dengan menggunakan regresi berganda dengan model sebagai berikut:
ADit = α + βɪCARit + β2 RORAit + β3 NPMit + β4 ROAit + β5 LDRit + β6 BUSit + ε
Dengan ekspektasi : β1 ˂ 0, β2 ˂ 0, βɜ ˂ 0, β4 ˂ 0 dan β5 ˂ 0
Dimana :
ADit                = Akrual Diskresioner (akrual abnormal) bank syariah I pada tahun t
CARit             = nilai rasio CAR (Capital Adequqcy Ratio) bank syariah I pada tahun t
RORAit          = nilai rasio RORA (return on Risked Assets) bank syariah I pada tahun t
NPMit             = nilai rasio NPM (Net Profit Margin) bank syariah I pada tahun t
ROAit             = nilai ROA (Return On Assets) bank syariah I pada tahun t
LDRit              = nilai rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) bank syariah I pada tahun t
BUSit              = nilai Dummy bank syariah i pada tahun t, dimana 1 = BUS dan 0 =UUS
           
            Pada model regresi di atas juga dimasukan variabel kontrol BUS yang maksudkan untuk mengontrol kemungkinan adanya perbedaan akrual diskresioner antara bank syariah yang berbentuk BUS dengan ekspktasi β6 ≠ 0.

3.1.2  Lokasi Penelitian
            Penelitian dilakukan pada perbankan syariah di Indonesia dengan pengambilan data pada laporan keuangan publikasi tahunan bank syariah yang dapat diperoleh dari media massa yang memuat publikasi tersebut ataupun dari Direktori Perbankan Indonesia yang diterbitkan oleh BI serta dari website BI : www.bi.go.id.
3.1.3 Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Mei tahun 2007 hingga selesai.





3.2 populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
     Menurut Indriantoro dan Supomo (1999:115) “Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu”. Anggota dari populasi tersebut sebagai elemen populasi (population element).
Dalam penelitian ini populasi yang diteliti adalah semua perbankan syariah di Indonesia, yang berdasarkan data BI bulan Mei tahun 2007.
3.2.2 Sampel
            Sampel kami terdiri dari 21 bank syariah, terdiri dari bank syariah (Bank Umum Syariah / BUS) dan 18 unit syariah busines (unit Usaha Syariah / UUS) pada tahun 2004-2006.
3.3 Definisi Operasional Variabel
            Definisi operasional adalah “penentu constuct sehingga menjadi variabel yang dapat diukur, definisi operasional menjelaskan cara tertentu yang digunakan oleh peneliti dalam mengoperasikan construct, sehingga memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran construct yang lebih baik” (Indriantoro dan Supomo, 2002:69).
           
            Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.                  Bank Syariah
            Bank syariah adalah bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan dana dan maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil.
2.                  Akrual Diskresioner
            Penghitungan total akrual sama dengan yang dilakukan Healy (1985) dan Jones (1991) yang telah disesuaikan dengan karateristik perbankan, dengan rumus:
TAit = (∆PMADit + ∆BDDit + ∆UMPit - ∆BYDit - ∆UPit  - PBAit – Depit)/(Ait- 1)
Dimana: TAit = total akrual bank syariah i pada tahun t, ∆PMADit = selisih pendapatan masih akan diterima bank syariah I pada tahun t dengan t-1, ∆BDDit = selisih beban dibayar dimuka bank syariah I pada tahun t dengan t-1, ∆UMPit = selisih uang pajak bank syariah I pada tahun t dengan t-1, ∆BYDit selisih beban yang harus dibayar bank syariah I pada tahun t dengan t-1, ∆UPit = selisih utang pajak bank syariah I pada tahun t dengan t-1, PBAit = beban penyisihan aktiva produktif bank syariah I pada tahun t, Debit = beban depresiasi bank syariah I pada tahun t, Ait- 1 = total aktiva bank syariah I pada tahun t-1.
            Kemudian, dilakukan estimasi dengan menggunakan model :
TAit/ Ait-1 = aɪ (1/ Ait-1) + bɪ (∆POit/ Ait-1) + b2(PPEit/ Ait-1) + ɛᵢt
Dimana: TAit = total akrual bank syariah i pada tahun t, Ait-1 = total aktiva bank syariah i pada tahun t, ∆POit = selisih pendapatan operasional syariah i pada tahun t dengan t-1, PPEit = property, plant, and equipment (aktiva tetap) bank syariah i pada tahun t, perkiraan error (ɛᵢt) dalam persamaan di atas menunjukkan akrual diskresioner (discretionary).

3.                  Rasio CAMEL
            Capital diukur dengan CAR = ekuitas/total aktiva; Asset Quality diukur dengan RORA = laba sebelum pajak/aktiva produktif, dimana aktiva produktif adalah semua aktiva baik dalam rupiah maupun valuta asing yang dimiliki bank syariah dengan maksud untuk memperoleh penghasilan sesuai dengan fungsinya; management diukur dengan RORA = laba bersih/total aktiva; Earnings diukur dengan NPM = laba operasi/pendapatan; dan Liquidity diukur dengan LDR = jumlah kredit yang diberikan/jumlah dana pihak ketiga.
3.4 Sumber dan Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Sumber Data
            Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dengan Model regresi yang menggunakan metode estimasi Ordinary Least Squares (OLS) akan memberikan hasil yang Best, Linear, Unbiased dan Estimator (BLUE) jika memenuhi semua asumsi klasik. Pengujian hipotesis 1 (H1) dilakukan dengan uji beda.
3.4.2 Metode Pengumpulan Data
            Data yang akan diolah dalam penelitian ini diambil dari laporan keuangan publikasi tahunan bank syariah.
3.5  Metode Analisis Data
            Tenik dalam penelitian ini adalah analisis diskriminan. Dalam hal ini untuk menginvestigasi praktik manajemen laba di bank syariah.






DAFTAR PUSTAKA
Arnawa, I Gede (2006). “ Analisa Indikasi Manajemen Laba melelui Discretionary            Allowance for Loan Loses pada Perbankan Pasca Rekapitalisasi”. Karya Akhir Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Bertrand, Rima, Swiss National Bank (2000). “ Capital Requirement and Bank Behaviour :           Emperical Evidence for Switzerland”. Working Paper.
Betty, Anne. L and Petroni, Kathy. R (2002). “ Earnings Management to Avoid Earnings             Declines Across Publicy and Private held Bank”, The Accounting Review, Vol 77.
Endriani, D (2004). “ Indikasi Praktek Earnings Management oleh Bank-Bank di Indonesia          Dalam Memenuhi Ketentuan Rasio Kecukupan Modal”. Karya Akhir Program            Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Healy, P.M. (1985). “ The Effect of Bonus Schemes on Accounting Decision”. Journal of             Accounting and Economic 7: 85-107.
Jones, J.J. (1991). “ Earnings Management During Import relief investigation”. Journal of Accounting Research ( Autumn) : 193-228.
McNicholas, M. and M.D. Neimark (1988). “ Evidence of Earnings Management from the            Provision for Bad Debts” , Journals of Accounting Research ( Supplement 1988),        pp        33-57.
Naciri, Ahmed (2002). “ Earnings Management from Bank Provisions for Loans losses”.   Working Paper, January.
Nasser, Etty M. (2003). “ Perbandingan Kinerja Bank Pemerintah dan Bank Swasta dengan          rasio CAMEL serta Pengaruhnya terhadap harga Saham”, Media Riset Akuntansi,             Auditing dan Informasi, Vol 3 No 3 Desember 2003 : 217 – 136.
Robb, Sean, W.G. (1998). “ The Effects of Analysts’ Forecase on Earnings Management in          Financial Institutions”. Journal of Financial Research (Fall).
Setiawati, Lilis dan Naim Ainun (2001). “ Bank Health Evaluation By Bank Indonesia and           Earnings Management in Banking Industry”. Gadjah Mada International Journal of Bussiness, May 2001, Vol 3 no 2 : 159-176.
Sofie (2005). “ Merumuskan Tujuan Laporan Keuangan Bank Syariah : Sebuah Studi        Eksplorasi”. Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi, Vol 5 No 1 April          2005 :  25-39.
Susanto, Agus (2003). “ Indikasi Praktek Pengelolaan Laba dan Faktor-Faktor yang          Mempengaruhinya ( studi Empiris pada Sektor Perbankan Sebelum Krisis         Perbankan       Nasional )”, Karya Akhi Program Magister Akuntansi Fakultas     Ekonomi          Universitas Indonesia, Jakarta.                
   





Sabtu, 10 Maret 2012

Pondok Pesantren Al Hidayah Jangkebuan

Seimbangkan Ilmu Umum dan Ilmu Agama

Sebagai pondok pesantren (ponpes) yang umurnya lebih dari setengah abad, Ponpes Al Hidayah di Kota Bangkalan berupaya menyeimbangkan transfer ilmu agama dan umum. Itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas santrinya agar berilmu sekaligus berakhlak mulia.
Pondok Pesantren Al Hidayah berlokasi di Kampung Jangkebuan. Sehingga kerap disebut pula sebagai Ponpes Jangkebuan. Namun, lokasi sebenarnya berada di Jalan Kyai M. Toha Gang Pesantren, Kota Bangkalan. Ponpes yang satu ini, merupakan satu dari tiga ponpes yang telah mendirikan madrasah sejak tahun 1939.

Tak heran, ponpes yang diasuh KH Mahfudz Hadi ini dikenal memiliki pola pendidikan pesantren yang seimbang. Yakni, antara pendidikan pesantren wustho berupa hadist, tafsir, imrithi, serta taqrib yang disandingkan dengan pendidikan kurikulum standar pendidikan nasional.

Tentu saja, keseimbangan tersebut juga didukung sarana dan prasarana yang ada. Selain gedung pemondokan bagi para santrinya, di kompleks ponpes yang berdiri tahun 1952 ini juga terdapat sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

Dari total siswa-siswi yang belajar di sekolah, khususnya MTs dan MA, bisa dihitung prosentasenya. Untuk MTs misalnya, sekitar 70 persen siswanya adalah santri pondok. Sedang 30 persen siswanya dari luar pondok. Sedang MA-nya, 60 persen dari santri dan 40 persennya dari luar pondok.

"Pola pendidikan yang Kami terapkan di pondok ini ada dua, yang intinya adalah pendidikan ilmu umum dan akhlak. Untuk pendidikan ilmu umumnya ada Tsanawiyah dan Aliyah. Sedangkan untuk ilmu akhlaknya adalah pengajaran ilmu agama di pesantren usai jam belajar," tutur KH Mahfudz Hadi.

Selain jam belajar tersebut, lanjutnya, masih ada ada tambahan pelajaran yang difokuskan pada pengetahuan keagamaan. Itu digelar selama seminggu, kecuali malam Jumat. Pengajian tersebut langsung diasuh oleh kiai yang juga Ketua MUI Bangkalan ini. Tujuannya, untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan pembinaan pada sikap dan perilaku santrinya.

Selain itu, sambung KH Mahfudz, dalam rangka meningkatkan wawasan dan kualitas keilmuan santrinya. Baik ilmu agama atau akhlak maupun ilmu umum. "Sebab ilmu kan secara klasikal terbatas dengan waktu. Tetapi kalau akhlak tidak terbatas waktunya. Dan akhlak ini adalah pembinaan perilaku keseharian dalam bermasyarakat," terang putra sulung Kyai Abdul Hadi ini.

Dalam penerapannya, pengasuh memberi kebebasan pada para santrinya. Sehingga ada yang hanya ikut pendidikan wustho, juga ada yang ikut pendidikan umum di sekolah. "Kalau yang ikut pelajaran umum, malamnya mengikuti pengajaran wustho. Yakni antara jam 18.30 hingga 21.30," terang KH Mahfudz.

Yang menarik, sejak awal berdiri, Ponpes Al Hidayah selalu memiliki jumlah santri putri yang jauh lebih besar dibanding santri putranya. Menurut KH Mahfudz, kondisi itu berawal dari sikap telaten ibundanya kala membina para santri putrid. Itu berlanjut sampai saat ini. Setidaknya, dari sekitar 360 pemondok, 70 persennya merupakan santriwati.

Menjelaskan soal lebih dominannya santri putri ini, KH Mahfudz mengaku karena wanita adalah awal dari pembina generasi. Sebab perempuanlah yang mencetak generasi yang akan datang. Mulai dari menyusui, mendidik, serta menjalankan tugas-tugas rumah tangga yang lebih banyak bersama anak-anaknya. Sedang laki-laki lebih banyak keluar rumah. "Oleh karena itu, Kami tetap memberi peluang yang sama bagi santri laki-laki dan perempuan

PROPOSAL PENELITIAN TENTANG PENDIDIKAN

JUDUL PENELITIAN  : PENGARUH KEBIJAKAN SEKOLAH GRATIS TERHADAP PRESTASI BELAJAR DENGAN MENGONTROL KEMAMPUAN AWAL SISWA.

KATA PENGANTAR


Pendidikan merupakan faktor penentu dalam kemajuan sebuah bangsa, oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa negara yang maju dipastikan sangat memperhatikan pendidikan di negaranya. Hal ini terlihat dari negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, China yang selalu memperhatikan tingkat pendidikan warganya.
Di Indonesia, usaha memperhatikan pendidikan sudah dilaksanakan, pemerintah mulai secara signifikan menggalakkan program wajib belajar kepada warga Indonesia. Hal ini didukung dengan pemberlakuan kebijakan Sekolah Gratis. Dengan sekolah gratis ini diharapkan seluruh rakyat Indonesia memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar, sehingga dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. Akan tetapi, kebijakan ini perlu diperhatikan pelaksanaannya, karena sangat dimungkinkan kebijakan sekolah gratis justru menjadi batu sandungan bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Untuk itulah penelitian ini diarahkan untuk melihat lebih jauh seberapa jauh dampak pelaksanaan kebijakan Sekolah Gratis terhadap prestasi belajar siswa dengan mengontrol kemampuan awalnya. Diharapkan, melalui penelitian ini dapat dihasilkan temuan-temuan yang bisa digunakan dalam pengambilan keputusan lanjutan, tentunya saja seluruhnya digunakan kembali untuk kemashalatan bangsa.
Bravo Pendidikan Indonesia.


Tim Peneliti

A.    PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang
Harold G. Shane dalam buku Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, mengatakan :
“pendidikan secara potensial penting karena : (1) Pendidikan adalah satu cara yang mapan untuk memperkenalkan si siswa (learners) pada keputusan sosial yang timbul; (2) pendidikan dapat dipakai untuk menanggulangi masalah sosial tertentu; (3) pendidikan telah memperlihatkan kemampuan yang meningkat untuk menerima dan mengimplementasikan alternatif-alternatif baru; (4) pendidikan barangkali merupakan cara terbaik yang dapat ditempuh masyarakat untuk membimbing perkembangan manusa sehingga pengamanan dari dalam berkembang pada setiap anak dan karena itu dia terdorong untuk memberikan kontribusi pada kebudayaan hari esok.” (Harold G. Shane, 2002, 39).
Berangkat dari apa yang diungkapkan oleh Shane, dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, sehingga setiap warga negara Indonesia wajib mengenyam pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar, mutu sumber daya manusia Indonesia dapat bersaing dengan warga negara lain di dunia ini.
Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta telah berusaha untuk mewujudkan agar seluruh warganya dapat mengenyam pendidikan dengan baik. Hal ini tercermin dari kebijakan sekolah gratis yang digulirkan oleh pemerintah. Tapi perlu dicermati, kebijakan sekolah gratis, bukan pendidikan gratis. Karena pendidikan tidak ada yang gratis, hanya saja dalam praktiknya biayanya dibebankan ke dalam anggaran pemerintah sehingga rakyat tidak perlu membayar apapun untuk biaya pendidikan.
Hal ini tentunya patut diapresiasi dengan baik, karena dengan demikian kesempatan mengenyam pendidikan tidak lagi hanya menjadi milik mereka yang memiliki kekayaan, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Dengan ini, maka setiap warga negara Indonesia, dari mulai keluarga pemulung, tunawisma hingga buruh bangunan berhak untuk memperoleh pendidikan di sekolah.
Hanya saja yang menjadi pertanyaan, benarkah sekolah gratis dapat memberikan proses pembelajaran yang optimal? Benarkah proses pembelajarannya disamakan dengan proses pembelajaran sebelumnya (saat masih membayar)? Dan masih banyak pertanyaan lainnya sehubungan dengan kebijakan sekolah gratis ini.
Penulis mencoba mencermati dari fakta empiris yang penulis alami. Jika penulis ingin membeli sebuah barang yang mungkin harganya cukup mahal, tentunya penulis berusaha menabung hingga akhirnya berhasil membeli barang tersebut. Dan jika telah memiliki barang tersebut, tentunya penulis akan mempergunakan dan menjaganya dengan baik, karena barang tersebut didapat dengan susah payah. Akan tetapi, jika penulis mendapatkan barang tersebut secara gratis, yang penulis alami adalah penulis hanya mempergunakannya dan jarang merawatnya dengan baik, karena penulis berpikir barang tersebut diperoleh tanpa perjuangan apapun.
Dari fakta di atas, penulis melihat ada kecenderungan rendahnya motivasi dan semangat belajar siswa. Sama seperti yang penulis alami, karena merasa gratis dan tidak harus berusaha, para siswa cenderung ogah-ogahan dalam belajar dan tidak memiliki semangat untuk maju dan berkembang. Para orang tua tidak memaksa anak-anaknya untuk belajar, karena berpikir jika anak mereka tidak naik kelas, tidak akan membayar apapun sampai selesai pendidikan.
Hal ini yang juga perlu menjadi perhatian pemerintah, sekolah gratis yang sudah berhasil membangkitkan minat rakyat untuk bersekolah, juga seharusnya dapat membangkitkan semangat dan motivasi siswa untuk belajar dengan tekun dan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan baik. Dalam hal ini pemerintah tentunya harus mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan sekolah gratis, sehingga kebijakan ini dapat menjadi sebuah program unggulan di Indonesia, khususnya di wilayah DKI Jakarta.
Prestasi belajar siswa dewasa ini.masih diukur dari sisi akademik, artinya seorang siswa dikatakan memiliki prestasi yang baik jika nilai-nilai mata pelajarannya baik. Padahal, dalam arti yang lebih luas prestasi belajar merupakan keseluruhan sinergi yang dimiliki oleh siswa setelah memperoleh pembelajaran dari sekolah. Sehingga prestasi seharusnya diartikan sebagai buah dari proses pembelajaran yang tercermin bukan saja dari hasil akademik tetapi juga dari keseluruhan aspek kehidupannya, seperti akhlak, sopan santun dan agama.
Prestasi ini tentunya dapat terlihat dari berbagai aspek dan kriteria. Dalam ilmu ekonomi dikatakan seseorang dikatakan berprestasi jika mereka memiliki ability (kemampuan), effort (perjuangan) dan chance (kesempatan). Seseorang tidak akan bisa dikatakan berprestasi jika salah satu elemen di atas hilang atau tidak dimiliki. Memiliki kemampuan tanpa perjuangan, tidak ada hasilnya. Memiliki kemampuan dan perjuangan tetapi tidak ada kesempatan juga tidak berhasil. Untuk itu, sudah seharusnya pendidikan memperhatikan hal ini, yaitu menempat kemampuan siswa serta memberikan semangat agar berjuang dan mengarahkan siswa agar mencari kesempatan atau bila perlu menciptakan kesempatan untuk berhasil.
Berbicara kemampuan dalam prestasi belajar, hal ini tentunya sangat dipengaruhi oleh kemampuan awal seseorang. Siswa yang memiliki kemampuan awal yang baik, biasanya memiliki kecenderungan untuk memiliki prestasi belajar yang baik. Kemampuan awal dimaksud diharapkan dapat menjadi bahan bakar yang dapat dipakai oleh siswa tersebut untuk belajar di tingkat yang lebih tinggi. Artinya, dengan kemampuan awal yang baik, siswa dapat mengikuti dan bahkan menguasai pelajaran-pelajaran sulit yang ia terima di tingkat berikutnya.
Kemampuan awal siswa, dalam hal ini kemampuan awal siswa SD yang akan masuk ke SMP tentunya merupakan perjuangan siswa tersebut selama mengikuti pelajaran di bangku SD. Kemampuan awal dan perjuangan tersebut yang akan digunakan untuk berjuang kembali di bangku SMP dan begitu seterusnya hingga ke bangku kuliah. Hal ini dilakukan tentunya untuk menemukan dan atau menciptakan kesempatan untuk berkarya.
Melihat latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang perbedaan prestasi belajar antara sebelum dan sesudah pelaksanaan kebijakan sekolah gratis, serta melihat apakah ada pengaruh kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar.

2.    Perumusan Masalah
1.    Adakah pengaruh kebijakan sekolah gratis terhadap prestasi belajar siswa dengan mengontrol kemampuan awal siswa?
2.    Apakah ada peningkatan prestasi belajar setelah pemberlakukan kebijakan sekolah gratis?

3.    Kontribusi Penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk :
1.    Kontribusi Teoritis
Dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian lanjutan, dengan tema yang sama akan tetapi dengan metode dan teknik analisa yang lain, sehingga dapat dilakukan proses verifikasi demi kemajuan ilmu pengetahuan.
2.    Kontribusi Praktis
a.    Pemerintah, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menentukan kebijakan yang berhubungan dengan pelaksanaan sekolah gratis, sehingga dapat dihasilkan siswa-siswa yang berprestasi dan berguna bagi kemajuan bangsa Indonesia.
b.    Kepala Sekolah, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menentukan kebijakan baru dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa dengan memberikan arahan dan motivasi kepada seluruh siswa agar tekun belajar dan memiliki keyakinan bahwa dengan sekolah gratis dapat menghasilkan prestasi yang membanggakan.
c.    Guru, sebagai ujung tombak proses pembelajaran, dapat menggunakan hasil penelitian ini dengan mengakomodasi setiap kebutuhan siswa sehingga siswa lebih termotivasi dan memiliki semangat untuk belajar dan akhirnya dapat menghasilkan karya nyata bagi kemajuan bangsa.
d.    Orang Tua, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk mengarahkan anak-anaknya belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya, sehingga dihasilkan siswa yang unggul dan dapat diandalkan.

B.    TINJAUAN PUSTAKA
1.    Prestasi Belajar
Proses belajar mengajar di sekolah bersifat sangat kompleks, karena di dalamnya terdapat aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis. Aspek pedagogis merujuk pada kenyataan bahwa belajar mengajar di sekolah terutama di sekolah dasar berlangsung dalam lingkungan pendidikan dimana guru harus mendampingi siswa dalam perkembangannya menuju kedewasaan, melalui proses belajar mengajar di dalam kelas. Aspek psikologis merujuk pada kenyataan bahwa siswa yang belajar di sekolah memiliki kondisi fisik dan psikologis yang berbeda-beda. Selain itu, aspek psikologis merujuk pada kenyataan bahwa proses belajar itu sendiri sangat bervariasi, misainya: ada belajar materi yang mengandung aspek hafalan, ada belajar keterampilan motorik, ada belajar konsep, ada belajar sikap dan seterusnya. Adanya kemajemukan ini menyebabkan cara siswa belajar harus berbeda-beda pula, sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung. Aspek didaktis merujuk pada. pengaturan belajar siswa oleh tenaga. pengajar. Dalam hal inipun, ada. berbagai prosedur didaktis. Berbagai cara mengelompokkan, dan beraneka macam media pengajaran. Guru harus menentukan metode yang paling efektif untuk proses belajar mengajar tertentu sesuai dengan tujuan instruksional. yang harus dicapai. Demikian pula dengan kondisi eksternal belajar yang harus diciptakan oleh pengajar, sangat bervariasi.
Dilihat dari sisi ini, terlihat betapa pentingnya kedudukan guru dalam proses belajar mengajar. Prestasi anak didik dipengaruhi oleh banyak faktor, namun yang paling menentukan adalah faktor guru (Acc Suryadi, Hartilaar, 1993, hal.1 11).
Dalam hal ini guru sangat berperan dalam menentukan cara yang dianggap efektif untuk membelajarkan siswa, baik di sekolah maupun di luar jam sekolah, misalnya dengan memberikan pekerjaan rumah. Ketidakpedulian guru terhadap pembelajaran siswa akan membawa kernerosotan bagi perkembangan siswa. Guru yang sering memberikan latihan-latihan dalam rangka pemahaman materi akan menghasilkan siswa yang lebih baik bila dibandingkan dengan guru yang hanya sekedar menjelaskan dan tidak memberi tindak lanjut secara kontinu. Dengan kata lain, prestasi belajar siswa sangat ditentukan oleh cara mengajar guru yang akan menciptakan kebiasaan belajar pada. siswa. Cara atau  kebiasaan belajar banyak diartikan sebagai bentuk belajar atau tipe belajar. Esensi istilah tersebut adalah suatu perbuatan belajar, yaitu tingkah laku individu-individu pada proses belajar. Kebiasaan merupakan suatu cara bertindak yang telah dikuasai yang bersifat tahan uji (persistent) (Witherington, 1986, hal. 13). Kebiasaan biasanya tejadi tanpa disertai kesadaran pada pihak yang memiliki kebiasaan itu. Jenis bentuk belajar menurut Van Parreren (dalam Winkel, 1996) meliputi: (1) Otomatisme, yaitu terutama meliputi belajar keterampilan motorik, tetapi kadang dapat juga belajar kognitif, (2) Insidental, yaitu siswa belajar sesuatu tanpa mempunyai intensi atau maksud untuk mempelajari hal tertentu, khususnya yang bersifat pengetahuan mengenai fakta atau data, (3) Menghafal, yaitu orang menanarnkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nantinya dapat direproduksi kembali, (4) Belajar pengetahuan, adalah orang mulai mengetahui berbagai macam data mengenai kejadian, keadaan, benda-benda dan orang, (5) Belajar arti kata-kata, adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan, (6) Belajar konsep, yaitu orang mengadakan abstraksi yaitu dalam obyek-obyek yang meliputi benda, kejadian dan orang, (7) Belajar memecahkan problem melalui pengamatan, yaitu orang dihadapkan pada problem yang harus dipecahkan dengan mengamati baik-baik dan (8) Belajar berpikir, yaitu orang juga dihadapkan pada suatu problem yang harus dipecahkan, tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan, namun dipecahkan melalui operasi mental.
Selain itu, faktor yang sangat menentukan prestasi belajar siswa adalah motivasi siswa itu sendiri untuk berprestasi. Sering dijumpai siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi prestasi belajar yang dicapainya rendah, akibat kemampuan intelektual yang dimilikinya tidak/kurang berfungsi secara optimal. Salah satu faktor pendukung agar kemampuan intelektual yang dimiliki siswa dapat berfungsi secara optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi yang tinggi dalam dirinya. Motivasi merupakan perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan afektif dan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan (Donald dalam Wasty Sumanto, 1998 hal. 203). Motivasi merupakan bagian dari belajar. Dari pengertian motivasi tersebut tampak tiga hal, yaitu:
(1) motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang, (2) motivasi itu ditandai oleh dorongan afektif yang kadang tampak dan kadang sulit diamati, (3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Siswa akan berusaha sekuat tenaga apabila dia memiliki motivasi yang besar untuk mencapai tujuan belajar. Siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh tanpa dipaksa, bila memiliki motivasi yang besar; yang dengan demikian diharapkan akan mencapai prestasi yang tinggi. Adanya motivasi berprestasi yang tinggi dalam diri siswa merupakan syarat agar siswa terdorong oleh kemauannya sendiri untuk mengatasi berbagai kesulitan belajar yang dihadapinya, dan lebih lanjut siswa akan sanggup untuk belajar sendiri.

2.    Kemampuan Awal
Penyusunan program pembelajaran yang baik memerlukan dua macam informasi, yaitu : (a) tujuan pembelajaran khusus. (b) kemampuan awal dan karakteristik siswa. Tujuan pembelajaran khusus adalah kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa manakala ia telah selesai mengikuti suatu program pembelajaran. Menurut Abdul Gafur [1980,57], kemampuan awal dan karakteristik siswa adalah “Pengetahuan dan keterampilan yang relevan, termasuk di dalamnya  latar belakang informasi karakteristik siswa yang telah ia miliki pada saat akan mengikuti suatu program pembelajaran”.
Setiap siswa telah mempunyai berbagai pengalaman, kondisi dan potensi sewaktu  memasuki  situasi  belajar.  Ia  telah  memiliki  sikap-sikap  dan   intelegensi tertentu serta pengalaman belajar sebelumnya di dalam maupun di luar sekolah. Semuanya ini merupakan  latar  belakang  ataupun karakteristik siswa. Pengetahuan atau  kemampuan yang telah dimiliki siswa yang berhubungan dengan pelajaran yang akan diikutinya memegang peranan amat penting dalam proses belajar mengajar di sekolah. Informasi ini perlu diketahui guru, sebab dengan hal itu guru dapat merancang  dan  mendesain model pembelajaran secara tepat dan berarti. Untuk dapat merancang pembelajaran yang efektif, seorang  guru harus mampu mengidentifikasi keterampilan awal siswa yang dibutuhkan sehingga mempunyai implikasi pada perencanaan model pembelajaran. Oleh sebab itu,  mengenali tingkah laku masukan (siswa) dan ciri-ciri siswa merupakan langkah awal yang sangat penting untuk dilakukan dan berguna untuk memperjelas sasaran dalam pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut Cecco mengemukakan bahwa kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa sebelum memulai pelajaran baru, mempunyai pengaruh pada kemampuan siswa untuk memahami materi pelajaran yang akan dihadapinya. Hal ini terjadi kalau antara “Kemampuan awal dan materi pelajaran baru menunjukkan adanya relevansi, terutama kalau pengetahuan awal tersebut merupakan pengetahuan persyaratan terhadap pelajaran berikutnya”.
Pengaruh ini nampak dalam pemantauan hasil belajar siswa dalam jangka waktu tertentu. Sebab pada umumnya hasil belajar siswa yang dicantumkan sebagai nilai  rapor  caturwulan  atau semester dalam suatu bidang studi tertentu menunjukkan perkembangan hasil belajar dalam satu, dua atau tiga tahun berikutnya. Dengan demikian, prilaku kemampuan awal mempunyai dua karakteristik, yaitu : (1) sebagai prasyarat belajar untuk menghadapi pelajaran berikutnya, dan (2) mempunyai hubungan dengan hasil belajar dalam materi dan tugas-tugas pembelajaran berikutnya.
Pernyataan di atas, berkaitan dengan pendapat Sudjana yang menyatakan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan fator dari luar atau lingkungan. Faktor yang datang dari dalam diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai.
Adanya pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang diniati dan  disadarinya.  Siswa  harus  merasakan adanya suatu kebutuhan untuk belajar dan berprestasi.  Ia harus berusaha mengerahkan segala daya untuk dapat mencapainya. Selain itu, hasil yang dapat diraih masih juga bergantung dari lingkungan. Artinya ada faktor-faktor yang berada di luar dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Yang paling dominan adalah kualitas pembelajaran, sebab hasil belajar pada hakikatnya tersirat dalam tujuan pembelajaran. Dengan demikian, hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas  pembelajaran.   Pendapat  ini  sesuai  dengan  teori belajar (Theori of School Learning) dari Bloom yang mengatakan bahwa ada tiga variabel utama dalam teori belajar di sekolah, yaitu : karakteristik individu, kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa. Dalam kegiatan belajar,  lebih  banyak  memerlukan  aktivitas  siswa sehingga kualitas masukan (keadaan awal siswa) itu sangat menentukan kualitas keluarannya (hasil belajar  siswa).  Artinya, bagaimanapun  baiknya  alat  pemerosesan  jika  kualitas masukannya rendah untuk mengikuti suatu program pembelajaran maka diperlukan adanya pengenalan kemampuan awal siswa.
Menurut teori konvergensi  yang dikemukakan oleh Williams Stern yang dikutip Shalahudin menyatakan bahwa “Manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan dasar yang baik atau sebaliknya. Perkembangan selanjutnya adalah hasil kerjasama antara dua faktor yaitu faktor internal (fotensi hereditas) dan faktor eksternal (lingkungan pendidikan)”.
Dari pernyataannya tersebut jelas bahwa siswa memiliki kemampuan dasar  yang dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal (hereditas) dan faktor ekternal (lingkungan pendidikan). Hal tersebut berkaitan dengan kemampuan awal  siswa yaitu apabila siswa mempunyai kemampuan dasar yang baik maka perkembangan selanjutnya akan mengarah kepada keberhasilan, apabila hal ini dianalogikan terhadap proses belajar-mengajar maka dengan adanya kemampuan awal matematika yang baik maka akan memperoleh hasil  yang baik pula. Untuk mendapatkan prestasi belajar matematika yang baik maka kemampuan awal  matematika siswa juga harus baik. Kemampuan awal matematika yang dimiliki siswa dapat dikatakan baik apabila telah dilakukan evaluasi (penilaian).  Dalam   penelitian  ini   kemampuan  awal   yang dimaksudkan adalah Nilai Ujian Akhir murni di SD, karena SD merupakan jenjang pendidikan dasar, yang merupakan bekal awal untuk melanjutkan kejenjang pendidikan menengah dalam hal ini SMP. Nilai Ujian Akhir SD digunakan sebagai dasar kemampuan awal matematika, karena sesuai dengan pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah , dijelaskan bahwa ;
Pendidikan dasar yang diselenggarakan di sekolah menengah atas (SMA) bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan lanjutan yang merupakan perluasan serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di SLTP yang bermanfaat bagi siswa untuk mengembangkan hidupnya sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan tinggi.
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa SMP  yang merupakan sekolah lanjutan setelah siswa menyelesaikan pendidikan dasar 6 tahun, hal tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun yang salah satu jenjangnya adalah pendidikan SMP dengan tujuan untuk memberi bekal kemampuan dasar (awal) untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah.

3.    Kebijakan Sekolah Gratis
Sekolah gratis merupakan kebijakan pemerintah dalam hal membebaskan seluruh biaya pendidikan bagi rakyat, dalam hal ini beban pendidikan tersebut ditanggung oleh anggaran pemerintah. Sekolah gratis mulai diterapkan mula-mula untuk siswa SD dan akhirnya meningkatkan untuk siswa SMP dan SMA. Kebijakan sekolah gratis mulai diterapkan di SMP sejak tahun pelajaran 2004/2005, sedangkan di SD sudah dilaksanakan lebih dahulu.

4.    Kerangka Berpikir
Sekolah Gratis merupakan sebuah kebijakan yang dilandasi kepedulian pemerintah terhadap nasib rakyat Indonesia. Masih banyaknya rakyat Indonesia yang terkurung dalam kebodohan membuat pemerintah mengambil langkah strategis yaitu sekolah gratis. Hal ini perlu diwaspadai, tidak ada pendidikan yang gratis. Sekolah gratis artinya masyarakat tidak perlu membayar biayanya, tetapi yang membayar adalah pemerintah.
Melihat fenomena masyarakat tidak terbebani sedikitpun untuk mengakses pendidikan, tidak jarang masyarakat tidak termotivasi untuk belajar dan berusaha memanfaatkan peluang yang ada. Kecenderungan ini kadang berimbas pada prestasi belajar siswa, artinya mereka yang bersekolah gratis memiliki kecenderungan masa bodoh dan enggan berusaha.
Dari uraian di atas, peneliti melihat bahwa kebijakan sekolah gratis justru berpengaruh negatif terhadap prestasi belajar siswa. Artinya, dengan pelaksanaan sekolah gratis, prestasi belajar siswa justru akan semakin turun.
C.    METODE PENELITIAN
1.    Tujuan Penelitian
a.    Untuk menemukan seberapa besar pengaruh kemampuan awal terhadap prestasi belajar siswa sebelum kebijakan sekolah gratis dijalankan.
b.    Untuk menemukan seberapa besar pengaruh kemampuan awal terhadap prestasi belajar siswa sesudah kebijakan sekolah gratis dijalankan.
c.    Untuk menemukan perbedaan prestasi belajar siswa sebelum dan susudah kebijakan sekolah gratis dijalankan.

2.    Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei expose-facto, yaitu penelitian yang digunakan untuk memperoleh suatu fakta tentang gejala atau permasalahan yang timbul dengan membandingkan kondisi-kondisi yang ada dengan kriteria yang telah ditentukan antar masing-masing variabel yang ada dalam penelitian ini.
Adapun desain penelitian/konstelasi masalah dapat digambarkan sebagai berikut:
                                                 A1               A2
                                                 X >Y           X>Y
A    =  pemberlakuan kebijakan sekolah gratis, yang terbagi atas kategori:
A1    =  sebelum pemberlakukan sekolah gratis
A2    =  setelah pemberlakukan sekolah gratis
X    =  kemampuan awal siswa
Y    =  prestasi belajar siswa

Data yang akan digunakan dalam penelitian ini bersumber dari GURU/KEPALA SEKOLAH dan atau DINAS PENDIDIKAN setempat, yaitu dengan cara meminta hasil kemampuan awal siswa (dalam bentuk Nilai Ujian Akhir SD atau nilai seleksi masuk SMP) dan meminta data prestasi belajar seluruh siswa melalui Legger yang dimiliki oleh setiap guru.
Setelah data didapatkan akan dilakukan uji persyaratan analisis data, yaitu uji normalitas (menggunakan kosmogorov smirnov, untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak), uji homogenitas dan uji linieritas (untuk menguji linieritas regresi).
Teknik analisa data pengujian hipotesis yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dengan mengontrol kovariabel (kemampuan awal) menggunakan teknik ANKOVA (Analisis Kovariat).

DAFTAR PUSTAKA
Harold G. Shane, Arti Pendidikan Bagi Masa Depan (____, ____, 2002)
Arikunto, Suharsimi, 1993, Manajemen Penelitian, (Jakarta, Rineka Cipta)
Gulo, W., 2005, Strategi Belajar Mengajar Cet ke 3 (Jakarta, Grasindo)
Hamalik, Oemar, 2004, Proses Belajar Mengajar (Jakarta, Bumi Aksara)
Lubis, Zulkifli, 1998, Teori Belajar (Jakarta, STKIP Wijaya Bakti)
Purwanto, M. Ngalim, 1992, Psikologi Pendidikan (Bandung, Remaja Rosda Karya)
Riduwan, 2005, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula (Bandung, Alfabeta)
Sudjana, Nana, 2004, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar cet. ke 9 (Bandung, Remaja Rosda Karya)
Sugiyono, 2004, Metode Penelitian Administrasi (Bandung, Alfabeta)
Winkel, W.S., 1996, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pendidikan (Jakarta, Gramedia)
Suryabrata, Sumadi; 2004, Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada


Lampiran

JADWAL PENELITIAN
Penelitian ini akan memakan waktu 3 bulan, dengan jadwal sebagai berikut :


No    Deskripsi Kegiatan                                       Bulan ke-1    Bulan ke-2    Bulan ke-3
                                                                             1 2  3   4          1 2 3 4          1 2 3 4
1    Pengajuan Judul Penelitian                                * *
2    Studi Pendahuluan                                            * * *
3    Perancangan Instrumen Penelitian                            * *
4    Pengumpulan Data                                                                    * * * * 
5    Pengolahan Data                                                                           * * *         *               
6    Ringkasan Eksekutif                                                                                       *
     (Executive Summary)                                
7    Seminar Hasil Penelitian                                                                                   *                       
8    Penulisan Laporan Penelitian                                                                               * *
9    Penggandaan Laporan Penelitian                                                                            *                     

PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN
Persiapan dan Pengumpulan Data
1.    Survey Pendahuluan                                        Rp.       500.000,-
2.    Perizinan Penelitian                                          Rp.    1.000.000,-
3.     Pembahasan Awal dan Pengumpulan Data Awal
      a.     Honor Peneliti            Rp.    1.000.000,-
      b.     Tenaga Lapangan       Rp.       500.000,-
      c.     Transportasi               Rp.       700.000,-
Subtotal A                               Rp.    3.700.000,-

Operasional Lapangan
           1.     Honor Peneliti                 Rp.    2.000.000,-
           2.     Staf Administrasi             Rp.       500.000,-
           3.    Tenaga Lapangan             Rp.    1.000.000,-
           4.    Transportasi                     Rp.    1.000.000,-
Subtotal B                               Rp.    4.500.000,-

Penyusunan Laporan Hasil Penelitian
1.     Menyusun Laporan Akhir             Rp.    1.000.000,-
2.     Penggandaan Laporan Akhir         Rp.       300.000,-
Subtotal C                                            Rp.    1.300.000,-

TOTAL A + B + C                               Rp.    9.500.000,-   





Total Tayangan Halaman